Minggu, 29 Agustus 2010

Dari Sakral Menjadi Banal

SEJARAH mencatat, tayub muncul pada zaman Kerajaan Kediri, abad ke-11 Masehi. Mulai berkembang di Jawa bagian timur dan tengah, tradisi ini tercatat dalam buku Kakawin Bharata Yudha karya Mpu Sedhah dan Mpu Panuluh pada 1079 Saka atau 1157 Masehi. Pada pupuh XIII bait ke-8 terdapat kisah para Pandawa yang sedang nayub. Prof Dr. R.M. Sutjipta Wirjosuparto (1968) menerjemahkan nayub sebagai "menari-nari dan bergembira dengan riuhnya". 

Namun, Prof. Dr. R. Ng. Poerbatjaraka dalam Bahasa dan Budaya III (2 - 1954) berpendapat bahwa nayub bukan dari kata "tayub", melainkan dari "sayub" yang berarti ganda: makanan yang sudah basi dan minuman keras. Keterkaitan tayub dengan minuman keras juga tercatat dalam Kamus Kawi-Jawa susunan C.F. Winter dan R. Ng. Ranggawarsita: "nayub, ngombe, sukan-sukan", bergembira dengan mereguk minuman keras. 

Sedangkan mendiang Prof. Dr. Suripan Sadi Hutomo (Tradisi dari Blora, 1996), mengartikannya secara etimologis. Pertama, dari kata tayub, yang dalam tradisi lisan adalah kirata-bahasa dari kalimat ditata cik ben guyub (diatur agar menjadi rukun). Ahli tayub dari Universitas Negeri Surabaya itu menyebut arti kedua, dengan merujuk makna tayub dalam kamus Baoesastra Djawa karya W.J.S. Poerwadarminta, 1939: "kasukan jogedan nganggo dijogedi ing tledek" (bersuka ria menari bersama wanita penghibur). 

Halaman 2084 Kamus Jawa Kuno karangan Roorda (1847) menerangkan lebih detail. Buku pusaka Puro Pakualaman itu menduga tayub berasal dari dua akar kata: guyub (rukun, bersatu) dan ma-taya (menari). Ini dianggap cocok dengan sosok arca Sang Hyang Taya ataupun Siwa Nata Raja dalam ajaran Hindu. Syiwa diwujudkan lagi menari dengan satu kakinya diangkat. "Ma-taya dan gu-yub membentuk kata baru, tayub," kata Tamdaru dari Lembaga Kajian dan Informasi Kebudayaan TeMBI Yogyakarta. 

Awalnya, konon, pengamal tayub adalah penganut ajaran Syiwa yang menyembah syakti-nya: Durga Mahisasuramardini. Dalam keyakinannya, mereka berusaha mencapai moksa dan penyatuan diri dengan Tuhan (terminologi Jawa: Manunggaling Kawula Gusti). Untuk mencapainya, mereka menari dengan melibatkan mamsa (daging), matsya (ikan), madya (alkohol), maithuna (persetubuhan), dan mudra (sikap tangan). 

Dalam praktek, tayub jelas terkait erat dengan madya dan maithuna. Pengungkapan madya tampak lewat minuman keras ciu yang selalu menyertai tayuban. Sedangkan maithuna melibatkan seks, yang tak terpisahkan dari pergelaran tayub. 

Kepercayaan Hindu-Tantrayana itulah yang dengan mudah terserap dengan kultur agraris masyarakat Jawa yang animistis-dinamistis. Sebab, tayub dan sejenisnya menjadi salah satu unsur upacara pengungkapan syukur dan harapan tetap suburnya tanah. Upacara pascapanen ini, menurut budayawan Ahmad Tohari, "Juga berkaitan dengan penghormatan kepada Dewi Sri." 

Tarian agraris ini diduga berasal dari budaya rakyat jelata. "Tayub berasal dari kesenian di luar Negara Gung," kata Dosen Fisipol Universitas Jenderal Soedirman, Bambang Widodo. Setelah dibawa ke keraton, nama dan gerakan tayub diperhalus. (Gambyong sebenarnya berasal dari nama seorang penari tayub cantik jelita tahun 1880-an.) Tapi, sebagian peneliti menganggap tari gambyong dibawa ke luar keraton, lalu berkembang di tengah rakyat. 

Bisa juga keduanya terjadi bersamaan. Kisah tentang Ki Ageng Mangir Wanabaya bisa direnungkan. Menurut Babad Mangir, untuk menumpas pemberontakan pemimpin tanah perdikan itu, Panembahan Senopati, Raja Mataram pertama, mengutus putri sulungnya, Sekar Pambayun, untuk menjadi telik sandi. 

Nah, Sekar pun menyaru sebagai penari tayub. Setelah Wanabaya tergoda kecantikan sang penari, ia dengan mudah dibunuh Senopati. Kisah ini sekaligus menunjukkan kehadiran tayub di tengah masyarakat. 

Jelas, tayub telah menjadi hiburan populer sejak awal abad ke-19 bagi orang kebanyakan ataupun priayi. Serat Centhini karya Mangkunegoro IV menggambarkannya dalam beberapa bait vulger. Sir Thomas Stamford Raffles dalam The History of Java (1817) juga mencatatnya. Ledhek tayub pun mulai berperilaku menyerupai pelacur. 

Madya dan maithuna, yang semula sakral, kini dipakai mencapai kepuasan sesaat. Dan ajaran Sang Hyang Taya dan Dewi Sri pun pudar.

Hanibal W. Y. Wijayanta, dan Syaiful Ami 
Sumber: Tempo-Majalah,  29 Juni 2003

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar