Kamis, 02 September 2010

"Hilangnya" Pusaka Sejati Keraton

Malam telah larut. Serombongan gadis tampak keluar dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, pekan lalu. Mereka baru saja merampungkan latihan tari Bedoyo Ketawang, sebuah tarian sakral milik keraton. Jika tak ada aral melintang, para penari itu akan mempersembahkan Bedoyo Ketawang dalam prosesi tingalan jumenengan (peringatan penobatan) Raja Paku Buwono XIII, yang dijadwalkan berlangsung Selasa esok.

Penobatan GKPH Hangabehi sebagai Paku Buwono XIII itu memang telah disiapkan matang. Para penari berlatih keras. Sementara itu, di luar, keraton dipercantik dengan mengecat ulang tembok-temboknya. Panitia pun telah menyebar 300 undangan ke seluruh penjuru, termasuk kepada pejabat di Solo dan Semarang.

Tetapi, pagi-pagi pihak keraton sudah mafhum jika tamu yang datang tak sebanyak undangan. Maklum, Keraton Solo tengah dilanda ontran-ontran (kemelut). Aroma perebutan kekuasaan yang meletup selama setahun terakhir belum juga padam. "Dalam situasi seperti ini, kami mafhum kalau ada pejabat yang tidak datang," kata KP Satryo Hadinagoro, adik ipar GKPH Hangabehi.

Bukan hanya soal tamu, bahkan acara penobatan itu sendiri bisa-bisa gagal terlaksana. Sebab, seteru Hangabehi, yakni GKPH Tedjowulan, mengeluarkan maklumat agar saudara tirinya itu membatalkan jumenengannya. "Sebelum ada perundingan (antara Hangabehi dan Tedjowulan), jumenengan harus dibatalkan" kata GPH Suryo Wicaksono, juru bicara Tedjowulan. GKPH Tedjowulan setahun lalu telah dinobatkan sebagai Paku Buwono XIII oleh pendukungnya. Lakon "Perang Raja Kembar" ini sepertinya masih bakal panjang.

Konflik ini meletup sejak keraton yang didirikan pada tahun 1745 tersebut ditinggal mangkat Paku Buwono XII, Juni tahun lalu. Karena tak memiliki istri yang berstatus permaisuri, Paku Buwono XII juga tidak mewariskan putra mahkota. Dari sinilah bibit perpecahan meletik.

Sebanyak 35 putra-putri dari lima istri selirnya terpecah ke dalam dua kubu. Satu kelompok mendukung Hangabehi, putra tertua Paku Buwono XII dari selir GRAy Pradaningrum. Yang lain mendukung Tedjowulan. Awalnya, pendukung Hangabehi yang lebih dulu mengumumkan rencana menobatkan pilihan mereka naik takhta dengan alasan dialah putra tertua.

Tetapi sebagian saudaranya yang tak menghendaki Hangabehi menjadi penerus Paku Buwono XII langsung bereaksi. Mereka memilih Tedjowulan untuk mengenakan mahkota kerajaan. Maka, pada 31 Agustus 2004, Tedjowulan dinobatkan sebagai Paku Buwono XIII oleh para saudaranya. Sepekan kemudian, giliran pendukung Hangabehi menobatkan pilihan mereka sebagai raja yang sama. Keraton Surakarta pun punya raja kembar!

Kini kedua kubu kembali saling menyiapkan kuda-kudanya. Babak lanjutan pertikaian itu sudah dimulai ketika GKR Alit, putri tertua Paku Buwono XII, berniat memasuki keraton, Jumat dua pekan silam. Kedatangannya saat itu disertai ratusan pendukung dengan kaus bergambar Tedjowulan.

GKR Alit, 48 tahun, datang ke keraton untuk mengecek kebenaran kabar raibnya sejumlah pusaka di Gedhong Pusoko. Dia memperkirakan pusaka keraton hilang sejak ia diusir dari keraton tujuh bulan silam. Gusti Alit digebah dari istana karena mendukung Tedjowulan.

Karena memegang kunci Gedhong Pusoko, Gusti Alit mengaku telah menggembok ruang tersebut ketika keluar dari keraton. Namun, kemudian dia mendapat kabar bahwa pintu ruangan pusaka telah dirusak. "Sejumlah pusaka inti telah hilang," kata dia.

Meski tak merinci pusaka apa saja yang hilang, menurut Alit, di Gedhong Pusoko tersimpan pusaka seperti Dhampar Kencono (singgasana raja), Kuluk Kanigoro (mahkota raja), Kanjeng Suryo Waseso (bros kehormatan raja dari intan berlian), Kutang Antakusumo (rompi), tombak, dan keris. Pusaka ini dianggap sangat berarti bagi Raja Surakarta. "Seorang raja belum diakui eksistensinya jika tidak memakai pusaka tersebut," kata Alit.

Usaha mereka masuk keraton gagal total karena pintu utama dikunci penjaga. Seperti orang asing di tempatnya sendiri, saat itu Alit dan para pendukung hanya duduk di teras Kori Kamandungan (pintu masuk utama keraton). Hingga petang hari, barulah Satryo Hadinagoro menemui rombongan. "Kami melarang Mbakyu masuk, ini titah Sinuhun Hangabehi," kata Satryo. Perdebatan tak terhindarkan. "Masa, pulang ke rumah sendiri tidak boleh. Mana Gusti Behi (panggilan Hangabehi)? Saya akan bilang sendiri kepadanya," kata Alit.

Satryo bergeming. Dia berkilah, pihaknya tidak melarang Alit masuk keraton. "Tapi bukan sekarang, Mbakyu Ratu," tuturnya. Ratu Alit, kata dia, boleh ke keraton setelah tanggal 30 Agustus. "Kini kami sedang mempersiapkan jumenengan."

Sampai langit mulai gelap, negosiasi itu tetap buntu. Ratu Alit lantas meninggalkan keraton dengan rasa kecewa menggumpal di dada. Para pendukung Tedjowulan yang datang dari sejumlah kota Jawa Tengah tak kalah galaunya. "Kami mendukung agar PB XIII Tedjowulan dan putraputri lain bisa pulang ke keraton," kata Kumbino Dipo Yuwono, salah satu di antaranya.

Tapi, benarkah pusaka keraton telah hilang? Menurut KP Eddy Wirabumi, juru bicara Hangabehi, pusaka keraton tak ada yang hilang. Dia menduga kabar tersebut sengaja diembuskan kubu Tedjowulan untuk menggagalkan jumenengan Hangabehi. Eddy menjamin Dhampar Kencono, Kutang Antakusumo, dan Kuluk Kanigoro tidak hilang.

Namun, Eddy mengklarifikasi bahwa benda-benda tersebut bukan pusaka seperti diklaim Alit. "Semua itu hanya ageman keprabon (baju raja)," kata Ketua Badan Pengelola Keraton Surakarta Hadiningrat ini. Menurut dia, keberadaan seorang raja tidak ditentukan oleh aksesorinya, karena setiap raja mempunyai ageman keprabon berbeda. "Sebagai aksesori, sah saja Raja (Hangabehi-Red) membuatnya sendiri," kata Eddy. Dia juga menegaskan, karena bukan pusaka, Kuluk Kanigoro dan aksesori lainnya tidak disimpan di Gedhong Pusoko.

Menurut Eddy, semasa mendiang Paku Buwono XII masih hidup, pemeliharaan ageman prabu seperti Kuluk Kanigoro, Dhampar Kencono, dan bros bertakhta permata yang berjumlah lima buah memang diserahkan kepada GKR Alit. Kabarnya, benda tersebut disimpan di Dalem Kendayan, tempat tinggal GKR Alit di dalam keraton.

Hanya, sejak ratu Alit meninggalkan keraton, Eddy tidak mengetahui keberadaan bros tersebut. "Saat pergi, kediamannya dikunci rapat," kata Eddy. Karena menduga ageman keprabon disimpan di keputren, Hangabehi lalu menambah kunci pintu Dalem Kendayan. Maksudnya agar di antara mereka tak ada yang bisa masuk ke rumah tersebut, kecuali dilakukan secara bersama-sama. "Jadi, tidak ada perusakan pintu," kata Eddy.

Namun, diakui Eddy, tak semua peninggalan raja dinasti Mataram tersebut masih dalam keadaan utuh. Dhampar Kencono, misalnya, telah lama hilang karena dilalap api dalam kebakaran yang melanda keraton pada 1985. Sebagai penggantinya, GRAy Koes Murtiyah, istri Eddy, membuat Dhampar Kencono baru untuk Paku Buwono XII. Kini soal nasib peninggalan itu menjadi bahan perseteruan.

Perseteruan perebutan kekuasaan ini tampaknya membikin risi warga sekitar keraton. Menurut Gunarto, ketua RW 3 Baluwarti, kemelut tersebut merugikan warganya. Karena itu, warga mengultimatum agar keduanya mau berdamai. "Jika tidak, kami yang memaksa mereka untuk berembuk," kata Gunarto.

Kegusaran warga Solo ada alasannya. Sejak dua raja itu berseteru, jumlah pengunjung keraton merosot drastis. Kondisi ini membuat penghasilan warga Baluwarti yang bekerja sebagai pemandu wisata dan tukang foto turun drastis. Pendapatan mereka pun anjlok. Sepertinya, kedua raja harus memperhatikan pusaka sesungguhnya ini: kesejahteraan warga sekitar keraton.

Zed Abidien, Anas Syahirul dan Imron Rosyid (Solo)

Sumber : MAJALAH TEMPO,29 Agustus 2005

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar