Minggu, 24 Juni 2018

Minggu, 10 Juni 2018

Gereja Hati Kudus Pugeran





Dengan diprakasai oleh Pastor Adrianus Djajasepoetra SJ, yang didukung oleh para bangsawan Jawa seperti Pangeran Suryodiningrat, Pangeran Tedjokusumo, Pangeran Brotodiningrat, dan Pangeran Puger, gereja itu mulai dibangun pada 5 November 1933 dengan menggunakan hasil rancangan dari seorang arsitek Belanda, Johannes Theodorus van Oijen.


Lahan tempat pendirian gereja ini merupakan tanah milik beberapa penduduk yang dibeli oleh Yayasan Papa Miskin, sebuah yayasan Misi di Yogyakarta, yang diatasnamakan Pastor Adrianus Djajasepoetra SJ. Lahan tersebut berada di lokasi yang sekarang menjadi tempat berdirinya gereja ini, yaitu sebuah jalan yang berada antara pojok Beteng Kulon dan Bantul, yang dikenal dengan nama Pugeran.

Gereja ini kemudian diresmikan pada 8 Juli 1934 oleh Pastor A. Van Klanken SJ, dengan diakon Pastor Rektor Xaverius Muntilan dan subdiakon Pastor A. Sukiman Prawirapratama SJ, bersamaan dengan peringatan 75 tahun Misi Yesuit di Hindia Belanda, dan kemudian esok harinya dilakukan pembaptisan pertama Fransiscus Xaverius Suyatna dari Padokan. Pastor pertama yang ditunjuk untuk berkarya di Gereja Pugeran adalah Pastor Adrianus Djajasepoetra SJ.

Berdasarkan catatan tahun 1936, jumlah umat Katolik yang ada di Gereja Pugeran ini adalah 1.010 orang. Sebagian besar umat tersebut terdiri dari umat pribumi Jawa, yang umumnya berasal dari daerah sekitar Pabrik Gula Padokan, dan sekitar gereja tersebut.
Pada gereja ini terjadi ‘perkawinan’ antara arsitektur tradisonal Jawa dengan arsitektur Barat. Ciri tradisionalnya bisa dilihat dari atapnya yang berbentuk tajug yang lazim digunakan pada bangunan ibadah tradisional Jawa yang dipengaruhi oleh agama Islam. Namun pada ujung atap terdapat sebuah salib untuk menandakan bahwa bangunan itu adalah bangunan gereja. Sedangkan, ciri dari Barat ditandai dengan dinding-dinding gerejanya. Badan bangunan bagian depan menggunakan langgam Neo-Gothic yang menggunakan moulding pada permukaan dindingnya, dan di atas pintu utama gereja tertulis Ad Maiorem Dei Gloriam, yang artinya “Demi kemulian Tuhan yang lebih besar”.

Pada masa Agresi Militer Belanda II, pasukan Belanda melakukan serangan terhadap Kota Yogyakarta. Pada saat serangan tersebut, banyak orang mengungsi menuju ke arah selatan dari Kota Yogyakarta. Halaman Gereja Pugeran penuh dengan pengungsi. Pastor dan para pembantunya berusaha untuk melindungi dan mengayomi para pengungsi yang mengungsi di halaman Gereja Pugeran. Mereka mengusahakan obat-obatan dan makanan bagi para pengungsi serta merawat yang terluka dan sakit. Sementara, mayat yang bergelimpangan akibat dari perang tersebut, juga dikuburkan dengan layak oleh pastor dan para pembantunya.

Peristiwa heroik itu diabadikan dalam sebuah prasasti yang dibangun di depan gereja, dan tepatnya berada di belakang patung Hati Kudus Yesus. Prasasti tersebut berbunyi: “Di bawah naungan Hati Kudus Juru Selamat Kristus para pastor beserta umat paroki Pugeran dengan penuh bakti serta syukur memperingati hari ulang tahun ke-50 Gereja Hati Kudus tercinta ini, khususnya dengan kenang-kenangan bahagia bahwa pada hari-hari yang paling gelap penuh derita 19 Desember 1948 - 19 Juni 1949 selama Perang Kemerdekaan Republik Indonesia tempat ini telah menjadi pengungsian dan perlindungan bagi penduduk tak bersalah di sekitar gereja Pugeran dan merupakan tempat penghubung rahasia pula antara para pejuang gerilyawan Perang Kemerdekaan Republik Indonesia yang bergerak di dalam dan di luar kota Yogyakarta.

Referensi;

http://library.fis.uny.ac.id/elibfis/index.php?p=show_detail&id=998&keyword

Minggu, 19 Juli 2015

Kasultanan Ngayogyakarto di Persimpangan Jalan?

Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan satu-satunya Kraton di Indonesia berdampingan dengan Kadipaten Paku Alaman yang merupakan satu-satunya kadipaten di Indonesia, yang masuk dalam tata kenegaraan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tidak ada Kraton dan kadipaten selain di Yogyakarta yang masuk dalam kancah politik kenegaraan. Semaraknya kebangkitan kembali kraton-kraton di Nusantara tidak bisa menyejajarkan diri dengan geliat dan eksistensi dalam lembar lembar sejarah keberadaannya. Kebangkitannya merupakan sebuah euphoria berkat berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang memberi ruang gerak kebebasan bagi mereka untuk kembali merawat warisan yang ditinggalkan oleh para leluhur mereka.

Sebagai satu satunya Kraton di indonesia yang Rajanya juga adalah Gubernur Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta, Kraton Yogyakarta juga tidak terlepas dari gerusan konflik pemikiran dan kepentingan dalam internal keluarga yang pada ujungnya kemudian menimbulkan: sebuah fakta nahwa di Kraton sedang terjadi keributan dan perebutan. dalam tatanan Paugeran itu yang bisa menjadi pengganti dan penerus dari Raja yang bertahta sekarang ini adalah para putra/putri yang lahir dari permaisuri raja. Para penggiat kebudayaan dan aktivis kebudayaan tentunya mengetahui bahwa Raja yang sekarang bertahta adalah seorang raja yang memiliki seorang Permaisuri yang melahirkan anak juga untuk sang raja.

Seorang anak yang dilahirkan hanya memiliki dua kemungkinan yaitu perempuan dan laki laki (bila kembar)  serta perempuan atau laki laki. Kebiasaan bahwa seorang pemimpin Kraton di pegang oleh laki laki adalah merupakan sebuah "tradisi" dan bukan sebuah "aturan". Berbeda dengan aturan yang mengemukakan bahwa yang menjadi raja adalah anak yang dilahirkan dari permaisuri yang sedang bertahta. Bila permaisuri tidak melhirkan sama sekali maka permaisuri berikut menjadi fokus utama pilihan dan bila dari permaisuri  ini juga tidak melahirkan maka baru dari kalangan selir yang diunggulkan.


Rabu, 17 September 2014

Mataram Menuju Puncak Evolusi

Oleh: Sulung Prabuwono

Keterangan dari Charles Darwin dalam teori evolusi  khususnya mengenai teori dasar bahwa " Hidup di bumi ini berkembang dari satu sumber". kita bisa mendapati sebuah ilustrasi tentang Kerajaan Mataram yang terpecah pecah itu berasal dari satu sumber. Semua berasal dari keruwetan politik dan intrik-intrik Mataram pada jamannya Paku Buwono II. Sejak didirikan dan dibangun oleh Senopati, Mataram secara fisik berevolusi menjadi besar dalam wilayah-geographis  dan dengan Ideologi "Wong Agung" yang diletakan sebagai dasar pemimpin Mataram, antara fisik dan jiwa/kebudayaan/ideologi mengalami evolusi menuju puncak dan perwujudan dalam bentuknya sebagai imperium yang kuat dan ekspansif.



Sampai dengan masa pemerintahan Sultan Agung kesatuan wilayah geographis Mataram diwujudkan dan dipertahankan dengan kekuatan ideologi dan Angkatan Bersenjata Kerajaan Mataram, namun  mulai dengan penggantinya bibit-bibit perpecahan sudah mulai menunjukan gejala dan pertumbuhannya.. Sampai dengan masa Pemerintahan Sunan Paku Buwono II Mataram sebagai sebuah imperium Jawa masih juga satu secara fisik namun mulai PB II ini berbagai faksi dalam tubuh kerajaan Mataram mulai sikut-sikutan. Pada jaman ini  Rakyat Mataram mengenal hal hal baru yang memperkaya pengetahuan namun juga menyeret mereka dalam pusaran rivalitas dan pertentangan. Mereka tidak hanya mengenal paham-paham Hindu Jawa kemudian Islam saja namun juga paham dan budaya yang dibawa oleh bangsa Eropa dalam kehadirannya di Nusantara sebagai yang dimengerti menambah unsur unsur kehebatan dalam diri mereka.



Dalam pada itu lantas kemudian sebuah pertanyaan layak dikemukan. Faktor apa yang mendorong mereka kemudian bertengkar hebat sehingga mendorong mereka dalam sebuah perpecahan? William Remlink menyebutkan bahwa runtuh dan berdirinya kembali Negara Jawa/Mataram tidak lepas dari kemisterian Jawa itu sendiri. Sesudah Sultan Agung maka faktor penjamin Raja mataram bukan lagi para petinggi Mataram seperti Juru Mertani, Pangeran Purubaya atau pangeran Mangkubumi namun beralih ke Belanda. .Rakyat Mataram juga sudah mulai bergerak dengan dorongan faktor-faktor baru yang meniadakan faktor wahyu yang berselimut gaib. Pemberontakan Trunojaya memporak porandakan konsep perwahyuan karena yang menerima wahyu ternyata melarikan diri sampai tegalarum ketika pasukan Trunojaya merangsek menembus benteng istana Mataram.

Pola-pola oportunistik menjadi gejala dan bahkan pegangan yang pada satu sisi menggantikan faktor perwahyuan sedang pada sisi lain masih dengan ketat dipegang sebagai yang benar menurut kaidah-kaidah tradisi yang diwarisinya. Semua pemerintahan termasuk para Raja-Raja dan para Presiden-Presiden dan apapun nama Kepala Pemerintahan, dalam mitos kepercayaan  hakikinya adalah Pemberian Gusti Allah. Hakikat kulturalnya adalah wujud perwahyuan itu. Saat ini opurtinistik (kesempatan) melalui banyak hal dianggap sebagai bagian dari penggantian "wahyu ejawantah" atau memang sudah dibuat menjadi teori kebenaran 100 %. Namun demikian,  faktor mendapatkan wahyu dari Hyang Maha Kekal adalah yang 100 % benar menurut sejarah kepemimpinan yang berkuasa.namun ayahnya Sultan Agung secara tersirat sudah memproklamasikan bahwa putra mahkota calon pengganti dan penerusnya adalah anak laki-lakinya dari permaisuri




Gelar Hamangkunagara itu mulai dari Paku Buwono  I ketika  mengangkat putranya yang kelak kemudian hari jadi Amangkurat Jawi. Kalau dari Sultan Agung ke Amangkurat I belum.  Amangkurat IV adalah Amangkurat Jawi ayahnya Paku Buwono II sedang Amangkurat V adalah Mas Garendi-Sunan Kuning. Raja Mataram sebagai pemimpin negara/kerajaan jangka waktu memerintahnya adalah seumur hidup. Pergantian Raja hanya dapat dilaksanakan ketika sang raja wafat atau didongkel dari kekuasaannya. Amangkurat IV mampu bertahan dalam pendongkelan pendongkelan yang melibatkan adik-adiknya namun secara tiba-tiba saat negara sudah aman dari rongrongan para pemerontak, Amangkurat IV wafat mendadak.Sebelum munculnya pengganti maka kekuasan Mataram dijalankan oleh PATIH, PANGLIMA KERAJAAN dan Ratu Amangkurat. Calon Raja mataram pengganti Amangkurat IV ada dua; Mangkunagara dan RM Prabasuyasa yang lahir dari ibu berstatus permaisuri Amangkurat IV. RM Prabasuyasa menjadi putra mahkota dan dikukuhkan sbg raja mataram dengan gelar Paku Buwono II JUGA SECARA LEGITIMATE. Mangkunagara yang gugur sbg putra mahkota masuk dalam jajaran dewan penasehat raja.

Gelar Paku Buwono pertama kali muncul sebagai raja mataram saat Pangeran Puger naik tahta kerajaan mataram. Gelar Paku Buwono adalah claim raja Mataram atas jagad gede dan jagad cilik yang dipangku nya dengan segala macam isi dan aktivitasnya.claim tersebut diakui oleh kompeni belanda yang hanya "memiliki" organisasi layaknya pemerintahan kerajaan tetapi tidak memiliki wilayah dan rakyat di nusantara. belanda suka tidak suka harus menyelaras adabtasi dengan tradisi dan kepemimpinan tradisi untuk bisa berhubungan dengan rakyat di nusantara sebagai raja mataram, paku buwono pertama menempati istana di kartasura sekaligus menjadikan kartasuro sebagai ibukota Mataram.

Paku Buwono II MEMINDAHKAN IBUKOTA KERAJAAN MATARAM ke Surakarta dan membangun istana Mataram yang baru.Saat perjanjian Giyanti 1755 ditanda tangani yang berarti telah lahir dua pusat pemerintahan yang baru yakni Pusat Pemerintahan di Surakarta dan pusat pemerintahan di Yogyakarta, Kraton atau Istana Mataram oleh Sunan Surakarta hasil perjanjian Giyanti ...Istana atau Kraton yang sekarang disebut sebagai Kraton Kasunanan Surakarta hadiningrat itu adalah Istana Kerajaan Mataram yang terakhir. Sebelum lahir yang namanya Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Kraton tersebut berfungsi dan tempat untuk aktivitas penyelenggaraan pemerintahan Kerajaan Mataram.. di kraton yang sekarang bernama kasunanan Surakarta itulah Paku Buwono II sebagai Raja Mataram yang terakhir bertahta. Mataram sebagai Negara jawa yang didirikan oleh Senopati menjalani proses evolusi secara fisik dan non fisik. Pandangan darwin soal evolusi hanya bicara soal fisik semata yaitu terjadinya "perubahan" . darwin belum memasukan unsur unsur "Mutasi" dan perkembangan yang berproses dari dalam. Darwin baru melihat perubahan dari sisi luarnya. Akan tetapi pandangannya bahwa kehidupan itu berkembang dari satu sumber, oleh beberapa pihak telah menginspirasi pihak pihak lain, baik lawan maupun kawan untuk melengkapinya Secara fisik makluk hidup mengalami proses evolusi yang ditandai dengan peubahan fisik. Rohaniawan dan intelektual dari perancis Teilhard de chardin menguraikan bahwa evolusi itu menyangkutsegi luar (fisik) dan segi dalam (batin/jiwa). faktor mutasi yaitu perubahan perubahan yang mendadak dari faktor-faktor keturunan tidak bisa diabaikan begitu saja melainkan harus dilengkapi dan dikupas. Dalam dunia politik evolusi dikenal pula dengan istilah lain sebagai sebuah dinamika. Mataram sejak didirikan penuh dengan dinamika dan konflik internal yang mengiringi proses "bagaimananya" Mataram sebagai sebuah negara kerajaan mewujudkan diri dan hadir serta berfungsi bagi masyarakat banyak.Saat perang berkecamuk....secara mendaadak Batavia mengganti Van Hogendoorf untuk di pensiun sebagai Gubernur Pantai Timur jawa. Nichoolas hartinghs menjadi penggantinya.. Slah satu kunci dalam pembagian Jawa telah menjalani mutasi. terjadinya mutasi di pulau jawa menyebabkan di nusantara timbul ketegangan-ketegangan antara Belanda dengan Mataram. Meski sebagai kaum pendatang...Belanda juga membutuhkan hidup dimana tempat yang dipijaknya memberikan " janji" pada kehidupan. Sebaliknya Mataram sebagai kaum penguasa pribumi merasa terusik dengan kedatangan bangsa eropa di Nusantara. Keduanya butuh kehidupan untuk mempertahankan "speciesnya". di internal belanda dan mataram sendiri tidak kurang mutasi dan ketegangan muncul dan pergi. semuanya menjadi terjalin dengan apa yang oleh darwin disebut sebagai SELEKSI ALAM. Hanaya yang kuat yang bisa bertahan hidup dan berkembang. baik buruk dalam seleksi alam tidak menjadi kontribusi bacaan ketika perjuangan untuk eksis hidup berada dalam wilayah ketegangan dan sengit yang luar biasa. Mataram butuh belanda dan belanda pun juga butuh Mataram untuk bisa melangsungkan hidup di nusantara. Sintesa keduanya memunculkan kekuatan baru yang tidak kurang mendapat tantangan sekaligus melahirkan kekuatan baru. Belanda membawa budaya Eropa yang rasional-realitas dan eksperimenismis sedang Mataram membawa budaya agraris-gaib spiritualis dan konsentris. Keduanya terlibat dalam pergulatan yang mengancam sendi-sendi kehidupan saat itu. Pembagian Mataram lebih tepatnya pembagian Nusantara/JAWA ketangan mataram dan Belanda membawa bukti bahwa empat kolektivitas yang terakumulasi dalam diri tokoh tokoh pada bertahan untuk survival. Belanda-Kasunanan-Kasultanan-mangkunegaran. kasunanan dengan sentral tokohnya tidak mau dan tidak ingin lenyap dari bumi Nusantara. demikian juga Belanda yang berkedok kompeni, kasultanan dan mangkunegaran.......butuh untuk eksis dan bertahan hidup dalam sejarah dan ingatan kolektifnya. aliansi Mataram PB III-Belanda hendak dilenyapkan oleh Mataram Mangkubumi tidak bias terjadi karena aliansi bertahan dan membutuhkan kehidupan. demikian juga mataram -Mangkubumi tidak bias dilenyapkan karena bertahan untuk hidup. Dalam evolusi itu kemudian muncul hal yang sangat hakiki yaitu "factor kesadaran" Yang pada konflik dan bertikai itu akhirnya pada sadar bahwa mereka dalam seleksi kehidupan membutuhkan satu dengan yang lainnya. Perjanjian demi perjanjian itulah tanda-tanda bahwa dalam diri kolektivitas nya akan "hakikat batin" nya muncul. Hakikat batin itu TAHU DAN MEMILIH. Belanda dan mataram sama sama tahu mana yang menyelamatkan dan menguntungkan bagi mereka maka dicapailah "perjanjian". unit pusat kekuasaan Jawa membawa konsekuensi terjalinnya proses sosiologis jawa dan eropa. ketergantungan satu dengan yang lain diantara keduanya menumbuhkan system bernegara baru yang ujung ujungnya melahirkan ketidak puasan dari sejumlah golongan karena menindas rakyat. pertentangan jawa-eropa sudah bukan lagi merupakan pertentangan untuk saling melenyapkan namun sudah menjadi suatu proses integrasi yang diisi dengan sistem birokrasi tradisional dan eropa. Legitimasi kekuasaan dari Raja yang semula dibangun dengan sinkretisme keagamaan dan budaya pada hal-hal yang gaib diperbharui sebagai manifestasi dari sebuah perubahan evolutif. Gelar Sayidin Panatagama yang dimulai PB I menggantikan legitimasi bahwa Raja raja Mataram mendapat dukungan penuh dari penguasa laut Selatan. Raja untuk bias memerintah dan berkuasa akhirnya membutuhkan dukungan riil dari para pejabat dan keluarga inti serta penguasa local yang setiap kali meledak menjadi pemberontak.